Truth
A story by : 29Megumi/@0729yes
Special for birthday my twins ‘Im Nayeon Twice’ #lol
Cast : Jeon Jungkook (BTS), Im Nayeon (Twice)
Support Cast : Im Jaebum (GOT7), Park Jinyoung (GOT7), Momo (Twice), Mark (GOT7)
Genre : Romance, Fluf, Teenager | Length : Oneshoot | Rating : G
.
.
Summary :
Nayeon terus berpikir, apa Jungkook menyukainya? Atau Jungkook hanya mempermainkannya?
Bahkan sampai saat ini, gadis itu masih terus mencari kebenaran akan hati Jungkook padanya.
.
.
Disclaimer :
Semua cerita ini, murni karangan author dan khayalan author semata, author juga memasangkan kedua idol ini hanya karena mereka berdua bias author, tidak bermaksud yang lain, dan author hanya meminjam mereka untuk keperluan cerita. Sound Recommended FF ini, lagu yang dibawain Twice Minor tim di ep 9 Sixteen – Truth, B.A.P – Happy birthday
.
.
–o0o– Truth –o0o–
Musim panas yang cerah.
Ya, bahkan amat cerah sampai-sampai panas nya begitu menyengat dan membuat suhu tubuh menjadi mudah berkeringat. Im Nayeon, yang biasanya begitu bersemangat bila musim panas tiba, kali ini pun mengeluh. Karena disaat musim panas yang cerah ini, ia harus menyapu seluruh lorong sekolah bagian kelas Tiga. Membuatnya berjalan seperti mayat hidup sekarang.
Dengan menunduk dan wajah masam. Gadis bergigi kelinci itu berjalan menuju gudang untuk meletakkan seluruh alat-alat kebersihan yang ia bawa. Saat ia baru saja akan berbelok menuju gudang. Suara riuh-riuh para siswa dan siswi mengalihkan perhatiannya.
Lebih-lebih. Ada yang menyebut nama JUNGKOOK.
Dengan penuh penasaran, ia makin mendekat kearah ruang olahraga, sumber dari suara-suara riuh itu.
Nayeon meletakkan sapu dan kain pel yang ia bawa bersender ditembok. Dengan perlahan, gadis itu menyembul kebeberapa barisan siswa dan siswi. Mencoba mencari celah untuk mengetahui ada hal apa yang sampai membuat seluruh siswa berkumpul seperti ini.
“ JUNGKOOK OPPAA SEMANGATTT ”
Nayeon memicing tajam pada seorang gadis yang sepertinya satu tingkat dibawahnya. Gadis yang ditatap itu langsung menunduk dan menatap Nayeon aneh.
“Kenapa sunbae itu melihatku seperti itu?” Bisik gadis yang berteriak nama Jungkook itu pada temannya.
Nayeon melengos dengan angkuh. Ia tidak suka jika ada gadis lain yang berteriak-teriak memanggil nama kekasihnya. Cukup ia yang melakukan itu.
“Eohh?”
Mata Nayeon membulat pasti kala ia melihat pemandangan dihadapannya. Pantas saja banyak yang berteriak-teriak memanggil Jungkook seperti sedang menyemangati. Ternyata, Jungkook sedang melakukan battle bermain basket dengan seorang siswa.
“Junior?” Nayeon tambah tak percaya, saat sinar matahari yang sebelumnya membuat wajah siswa yang battle dengan Jungkook itu tak terlihat adalah. Junior. Teman masa kecilnya. Park Jinyoung.
“Jungkook oppaaaa.. semangattt”
Gendang telinga Nayeon lagi-lagi menangkap teriakan menjengkelkan. Suara sok imut yang keluar dari para hobae untuk Jungkook.
“Ehh tapi, anak baru itu juga lumayan ya? Senyumnya manis sekali”
Sayup-sayup Nayeon kembali mendengar ada yang membela Junior. Ya, senyum Junior memang senyum yang paling manis. Dan tentu mampu menyihir para siswi perempuan disekolah ini.
“Kudengar, yang namanya Jinyoung itu yang mengajak Jungkook battle. Dia tidak tahu, kalau Jungkook itu sangat ahli dalam olahraga”
Nayeon mulai tertarik, ia melihat kembali kearah lapangan. Duel hebat antara Jinyoung dan Jungkook benar-benar menjadi pemandangan bagus. Sampai, hampir seluruh siswa mengerubung seperti lebah.
Gadis itu, menggigit bibir bawahnya sendiri. Kala skor yang dicetak Jungkook dan Jinyoung sangat tipis. Mereka sama-sama hebat. Peluh sudah membanjiri kedua siswa yang tengah menjadi pusat perhatian. Dan sungguh, itu membuat gelenyar aneh untuk Nayeon. Jungkook terlihat lebih menawan.
“Jungkook oppaaaaa semangatttttt.. kami mendukungmuuuu”
Nayeon menggeram. Ia pun terbawa suasana dan berteriak juga. “Chagiyaaaaaaa fightinggggg”
Suara Nayeon melengking hebat diarena ruang olahraga. Membuat semua orang menatap padanya. Tal terkecuali Jungkook yang juga kaget. Apalagi, Nayeon menyebut kata ‘chagiya’
Suasana ruang olahraga yang tadinya riuh, kini justru hening. Jungkook dan Jinyoung pun tak melanjutkan aksi mereka, lebih sibuk kepada menatap Nayeon. Bola yang tadinya berada ditangan Jinyoung pun terlepas karena shock, dan menggelinding kearah para penonton.
BUGHHH
Sebuah bola tiba-tiba melayang kearah Nayeon. Membuat kepala Nayeon terbentur dengan bola dan Nayeon terjatuh.
“Awwww” Nayeon meringis, dan kepalanya benar-benar terasa pusing. Hingga akhirnya ia jatuh pingsan.
Jinyoung kaget, ia segera melangkah cepat kearah Nayeon.
“Nayeon-ahh.. kau baik-baik saja?”
Jungkook yang sebelumnya hendak menolong Nayeon. Langkahnya terhenti, karena Jinyoung sudah melakukannya lebih dulu. Jinyoung mengangkat Nayeon dan menggendongnya menuju ruang kesehatan. Wajah siswa baru itu. Benar-benar memancarkan kekhawatiran.
Dan sungguh, pemandangan itu membuat Jungkook membeku dan mengepalkan tangan karena marah. Hei, coba kau pikirkan perasaanmu, saat kau melihat kekasihmu digendong orang lain?
***
Kejadian siang tadi, benar-benar menggemparkan satu sekolah. Sebuah berita hangat menjadi perbincangan baru. Ya, Jungkook dan Nayeon adalah sepasang kekasih.
“Aku benar-benar tidak percaya, kalau sunbae yang aneh itu adalah pacar Jungkook oppa”
“Iyaa.. benar-benar tidak cocok.. Jungkook oppa pintar, tampan, dan pandai olahraga.. tapi gadis itu.. bentuk tubuhnya saja rata”
Nayeon rasanya ingin menangis, jika terus menerus mendengar ucapan ucapan tak mengenakkan hati itu. Ia memang bodoh, kenapa ia sampai keceplosan seperti tadi.
“Nayeon.. kau baik-baik saja kan?” Suara Momo benar-benar menyiratkan kekhawatiran. Pasalnya, sedari tadi. Nayeon hanya menunduk dan menutup wajahnya dengan jaket diatas meja. Momo tahu dengan pasti, kalau Nayeon sedang dalam suasana hati yang hancur.
Momo menatap garang para siswa yang melewati kelasnya dan mengintip kearah Nayeon seraya berbisik hal yang sudah pasti menjelek-jelekkan. Ia kesal, Nayeon sahabatnya memang sedikit bodoh. Tapi ia juga manusia, yang mempunyai hati juga perasaan. Siapa yang akan tahan? Jika kau jadi pergunjingan satu sekolah.
Momo juga kesal, karena Jungkook. Yang juga terlibat dalam hal ini, justru hanya diam dimejanya dengan tenang. Tanpa melakukan hal apapun untuk paling tidak membela Nayeon dihadapan gadis-gadis bermulut tajam itu.
Suara isakan sayup-sayup terdengar. Momo yakin, Nayeon tengah menangis sekarang.
“Nayeon-ahh.. kalau kau tidak kuat, lebih baik pulang saja yaa.. biar aku yang antar”
Momo membelai lembut punggung Nayeon untuk sekedar memberikan semangat pada sahabatnya itu.
BRAKKKK
suara gebrakan pintu yang cukup keras membuat seluruh isi kelas kaget. Tak terkecuali Momo, ia menatap bingung Park Jinyoung yang tiba-tiba datang dan menimbulkan kegaduhan itu.
Dibalik punggung Jinyoung, terdapat seorang siswi yang menunduk takut dengan tangan gemetar.
Jinyoung mendekat kearah kursi Nayeon juga Momo. Menarik paksa siswi dibalik punggungnya itu.
“Cepat minta maaf”
Jinyoung menghempas siswi tersebut hingga terhuyung dan hampir terjatuh. Nayeon yang sebelumnya menutup wajahnya itu pun, perlahan membuka jaket yang menutupinya.
Mata Nayeon sembab, wajahnya memerah, dan lebam akibat benturan bola itu makin parah. Sampai Jinyoung meringis sakit melihatnya.
“Yaa.. Jinyoung ada apa ini?” Tanya Momo heran.
Siswi yang dibawa Jinyoung itu hanya diam menunduk takut,
“Heii kenapa diam?? Cepat minta maaf.. kau seharusnya melakukan itu atau aku akan melaporkanmu ke guru kedisplinan karena melukai seseorang” Jinyoung berucap penuh penegasan. Urat-urat lehernya pun sampai terlihat. Menandakan bahwa laki-laki itu tengah marah.
“Jadi kau yang melempar bola kearah Nayeon?” Momo juga mulai tersulut amarahnya.
“Mmaa..maaafff sunbae” suara gemetar itu keluar dari mulut siswi tersebut.
Tak lama, siswi itu menangis sejadi-jadinya dan melesat keluar dari kelas Nayeon.
“YAKKKKK”
Momo berteriak tak terima, gadis itu pun hendak beranjak mengejar, tapi Nayeon menahannya.
“Sudahlah biarkan saja” bisik Nayeon. Kini, hanya rasa malu yang membuat Nayeon menunduk. Ia malu menjadi pusat perhatian, ia malu karena sekarang semua orang tengah membicarakannya. Dan hal ini, justru tambah membuatnya malu.
Terlebih lagi, hatinya sakit. Karena Jungkook hanya diam dan tak melakukan apapun untuk membelanya. Mengingat itu, desakan air mata sudah tidak bisa ia tahan lagi. Refleks, gadis itu menutup wajahnya.
“Ayo pulang”
Suara Jungkook terdengar. Tanpa menunggu lagi, pemuda itu langsung meraih tas Nayeon. Dan menggandeng tangan Nayeon. Membawanya keluar dari kelas.
Jantung Nayeon berdegup kencang. Ia bingung harus berbuat apa. Ia hanya bisa menunduk dan pasrah. Mengikuti langkah Jungkook yang sepertinya melangkah keluar area sekolah.
***
Im Jaebum menyusuri koridor gedung olahraga tempatnya biasa berlatih taekwondo. Matanya menatap tajam kepada siapapun yang menunduk hormat.
Kilat amarah jelas terpancar dari aura Jaebum, begitu ia memasuki ruang latihan. Ia membanting bantalan alas yang biasa digunakan untuk duel.
“Hari ini, aku ingin tes kemampuan”
“Jaebum” Mark-teman Jaebum- mencoba menghentikan temannya itu. Ia tahu, satu-satu nya alasan Jaebum merubah jadwal menjadi adu kemampuan adalah ketika ia kesal dengan seseorang. Mark tidak mau ada korban lagi.
“Jeon Jungkook, kau lawanku hari ini”
Jungkook menatap bingung, ia melirik kesana kemari dan semua tatapan para senior benar-benar menatap iba padanya. Seolah berkata, ‘kau akan habis ditangan Jaebum’ atau bahkan ‘tulang mu akan remuk Jeon Jungkook’
Jungkook menelah ludah sakartis, dan menatap Jaebum yang sudah bersiap diatas arena. Mau tak mau, sebagai Junior, ia terpaksa mengikuti perintah Jaebum seniornya.
Senior yang lain juga tak bisa berbuat banyak, karena Jaebum adalah ketua latihan disini.
Mark dengan terpaksa masuk kearena sebagai wasit,
“Aku tidak tahu masalahmu apa, tapi kali ini jangan buat lawanmu lumpuh” bisik Mark pada Jaebum.
Yang diajak bicara hanya diam dan menatap tajam setiap pergerakan Jungkook. Amarahnya benar-benar membuncah ketika ia pulang melihat Nayeon menangis didalam kamar dan sudah pasti penyebabnya adalah Jungkook.
Dia saja kakaknya, tidak pernah membuat Nayeon kesayangannya menangis. Tapi pemuda yang dengan lancang memacari adiknya itu justru melakukannya.
“Baiklah,, sebelum memulai, sebaiknya kalian berjabat tangan dulu”
Jaebum melangkah ketengah arena, mengulurkan tangannya dan disambut oleh Jungkook.
“Kau akan menyesal membuat adikku menangis”
“Ne?”
***
Tak terasa waktu itu berlalu begitu cepat, sinar matahari menyeruak masuk dari balik jendela kamar Im Nayeon. Menandakan, jika pagi sudah kembali datang.
“Im Nayeon, kau tidak mau pergi sekolah? Hei ini sudah siang kelinci jelek”
Nayeon memberengut kesal dibalik selimutnya mendengar ocehan sang kakak. Ia masih malu akan kejadian kemarin. Dan bahkan gadis itu tidak tidur semalaman karena memikirkan apa yang akan terjadi dengan kehidupan sekolahnya setelah ini.
Tok tok tok
Lagi ketukan pintu kamar terdengar, Nayeon makin menenggelamkan diri didalam selimut tebal.
“Aku sakit uhukk…” ujar Nayeon sedikit berteriak lalu berpura-pura batuk. Agar kakaknya membebaskannya untuk tidak pergi sekolah.
“Im Nayeon, keluar, aku tahu kau tidak sakit”
Mata Nayeon terbelalak kaget dan sontak membuka selimutnya. Apa ia baru saja mendengar suara Jungkook ?
“Cepat keluar, hari ini ada ujian”
Benar, itu suara Jungkook. Jadi, Jungkook didepan kamarnya sekarang?
“Jika kau tidak bisa membuatnya sekolah! Akan kupatahkan lehermu Jeon Jungkook”
Nayeon kaget mendengar ancaman kakaknya pada Jungkook. Refleks ia berteriak,
“Sebelum oppa mematahkan lehernya, kupatahkan duluan tanganmu!!!!!”
Jaebum mendecih, Nayeon bisa mendengarnya dengan jelas.
“Kalau begitu cepat keluar Nayeon-ah” suara Jungkook menyahut dan kini lebih lembut,
Nayeon menggigit bibir bawahnya bingung, dan akhirnya ia pasrah apapun yang akan terjadi nanti disekolah.
“Tunggu, aku mandi dan ganti baju dulu”
“10 menit”
“Ya!!! Kau pikir aku bebek”
“Perlu kumandikan im Nayeon?”
Apa? Jungkook barusan bicara apa ? Nayeon menangkup pipinya sendiri yang sudah memerah.
“JEON JUNGKOOK KAU BENAR-BENAR MINTA DIPATAHKAN YA LEHERNYA”
Suara Jaebum menggema keseluruh isi rumah.
***
Nayeon terus berpikir, apa Jungkook menyukainya? Atau Jungkook hanya mempermainkannya?. Sampai saat ini mereka berjalan beriringan hampir sampai menuju gerbang sekolah. Nayeon tak kunjung menemukan jawaban.
Tapi, kalau Jungkook menyukainya? Bukankah seharusnya dia membela Nayeon saat Nayeon dikatai dan menjadi cibiran banyak orang? Lalu kenapa Jungkook tidak melakukannya, dan justru Jinyoung Yang melakukan itu semua dengan memarahi siapapun yang berani menghina Nayeon.
Nayeon menghentikan pergerakannya tepat saat satu langkah lagi ia memasuki halaman sekolah. Jungkook juga tentu saja menghentikan langkah dan menoleh kearah Nayeon dibelakangnya.
“Kenapa?”
“Hmm.. kau masuk lebih dulu saja, aku tidak mau dilempari batu jika berjalan denganmu” Nayeon menunduk, lebih memilih memandangi sepatunya dibanding bertatap muka dengan Jungkook.
“Yasudah” Jungkook memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu memasuki area sekolah.
Bahu Nayeon melemah kala itu, hatinya mencelos, hanya itu respon Jungkook? Apa dia tidak mengerti jika semua ini karena dia yang sekarang lebih populer ?
Eh? Tapi, Nayeon kembali sadar, kalau dia yang salah telah tak sengaja membeberkan kalau Jungkook itu kekasihnya. Namun, bukankah itu wajar? Semua wanita kan ingin diakui.
Pengakuan? Ya, pengakuan. Bahkan teman dekat Jungkook saja tidak tahu kalau mereka menjalin hubungan, lalu apa Jungkook mengakuinya jika mereka berpacaran? Atau, ia hanya mempermainkan Nayeon saja?
“Ahh molla molla” Nayeon menggeleng-gelengkan kepalanya, menghalau segala pemikiran tentang ini dan itu yang membuatnya pusing, dan jujur makin miris dengan dirinya sendiri.
“Hei, kudengar Jungkook oppa itu juga pandai taekwondo ya?”
“Iya, dia memang hebat dan pria idaman, kalian tidak boleh suka padanya. Jungkook oppa itu milikku, sudah disahkan oleh negara dan orang tua kami”
“Heoll.. pemimpi”
“Aku berkata jujur, kalau kalian berani menganggu Jungkook oppa, aku tidak akan berteman dengan kalian lagi”
“Iya-iya, aku lebih suka Jinyoung oppa”
“Terserah kalau yang itu”
Nayeon menangkap beberapa percakapan siswi-siswi yang baru saja memasuki area sekolah berbarengan dengannya. Tangannya menggenggam erat tas ransel, dan mencoba sabar mendengarkan ucapan ucapan siswi junior nya itu.
Helaan napas Nayeon benar-benar menjelaskan bagaimana perasaan kacaunya, hei, siapa yang terima jika kekasihmu diaku-aku oleh orang lain? Apalagi semua orang terima begitu saja, tanpa mengingat Nayeon yang padahal adalah kekasih Jungkook yang asli.
“Apa yang kau lamunkan nona kelinci”
Park Jinyoung merangkul Nayeon, dan menggoda wajah muram teman nya itu.
“Diam, aku tidak melamun”
“Kau terlalu banyak pikiran, wajahmu dengan jelas menunjukkan itu” dengan tulus, tangan Jinyoung terulur menyentuh puncak kepala Nayeon dan mengusapnya lembut.
Nayeon hanya diam, tanpa menolak sentuhan Jinyoung, yang sebenarnya kini membuat tatapan seseorang menajam tak suka.
Jeon Jungkook, berdiri tak jauh dari Nayeon dan Jinyoung yang berjalan menuju lorong loker. Ia benar-benar merasa terganggu dengan segala kedekatan Nayeon dan Jinyoung. Menurutnya, Jinyoung tidak menganggap kedekatan mereka sebagai teman saja, melainkan terselip perasaan mendalam disana.
“Omo” Jinyoung menoleh pada Nayeon yang sedang membuka lokernya dan terkejut.
“Wae?”
Im Nayeon menutup mulutnya, dan berjalan mundur menjauhi loker. Melihat ada yang tidak beres, tentu saja Jinyoung langsung mengecek apa yang dilihat Nayeon.
“Astaga” Jinyoung mengepalkan tangan kuat-kuat dan otot-otot wajahnya juga menegang.
Sebuah boneka penuh tusukan dan beberapa cairan kental merah seperti darah memenuhi loker Nayeon. Tak lupa juga, berbagai cacian dan makian yang tertulis dipintu loker bagain dalam.
“Ini sudah kelewatan, aku harus mencari tahu siapa yang melakukan ini”
“Sudahlah, biarkan saja” Nayeon mendesah dan berbalik segera menuju ruang kelas, melupakan niatnya untuk mengambil buku paket fisika. Yang sudah jelas hancur penuh noda merah.
Pasti, dia akan dihukum oleh Park Ssaem setelah ini karena tidak membawa buku mata pelajaran guru terkiller sepanjang abad itu.
Jinyoung memandang punggung Nayeon dengan rasa simpatinya. Selama ia berteman dengan Nayeon, tak pernah sekalipun ia melihat Nayeon bermuram hati seperti sekarang. Biasanya, Nayeon adalah gadis ceria yang penuh guyonan dan tingkah lucu, lalu kenapa sekarang Nayeon temannya menjadi lebih melankolis?
Atensi Jinyoung teralihkan ketika seorang pemuda melewatinya. Dia Jungkook. Jinyoung tahu, Jungkook lah penyebab semua ini.
“Kau diam saja?” Nada sinis terlontar dari bibir Jinyoung.
Jungkook melirik sekilas tanpa minat, lalu kembali fokus mengambil sesuatu dari lokernya sendiri. Merasa tidak direspon, Jinyoung kesal. Ia mengambil langkah. Menarik Jungkook dan membenturkan Jungkook kedinding.
Jungkook sedikit meringis dan memegang pundaknya yang sakit akibat duelnya dengan Jaebum kemarin. Kini ditambah sakit dengan benturan.
“Kau pengecut? Aku tidak percaya jika kau benar-benar kekasih Nayeon, kau tahu! Nayeonku diteror oleh segerombol fansmu yang kurang kerjaan itu, dan kau diam saja? Kau menghancurkan masa-masa SMA Nayeon kau tahu?” Jinyoung meraih kerah seragam Jungkook dan menariknya.
Bukan penyesalan atau semacamnya yang ia dapat dari Jungkook. Melainkan tatapan tajam yang menusuk, Jungkook menepis tangan Jinyoung dari bajunya.
“Nayeon-mu? Setahuku, hanya aku yang boleh mencap Nayeon adalah Nayeonku”
Brakk
Jinyoung mendorong Jungkook semakin keras kedinding. Dan kali ini, Jungkook benar-benar merasa tulangnya makin remuk. Pasalnya kemarin, ia sampai harus kedokter setelah melakukan duel dengan Jaebum. Dan sepertinya pengobatan tidak akan berguna jika punggungnya kembali terluka, ia merasa nyeri amat sangat dipunggungnya.
“Kalau kau berpikiran begitu! Keluarkan Nayeon dari segala keadaan buruk dan tidak menyenangkan ini. Jika kau tidak bisa, aku akan merebut Nayeon-ku kembali, dia tidak pantas memiliki kekasih pengecut seperti mu”
“Lalu kau lebih pantas dariku?”
Jinyoung menggeram, Jungkook benar-benar tak menunjukkan sikap yang diinginkan. Jinyoung hendak mealayangkan pukulan, tapi Jungkook menahannya.
“Aku punya cara sendiri, untuk menjalani hubunganku dengan Nayeon! Kau tidak perlu mengajariku! Dan satu lagi, jangan dekati Nayeon, Nayeon milikku”
Setelahnya Jungkook segera pergi kedalam kelas, tangannya memegangi pundak dan sedikit bagian punggungnya yang sakit.
“Arghh, kenapa sakit sekali”
***
Bagaikan tersambar petir dan badai hebat, Nayeon termangu ditempatnya kini berdiri. Ia menundukkan wajahnya tak berani menatap pemandangan didalam ruang UKS. Ternyata, gadis yang mengaku-aku memiliki Jungkook itu benar-benar dekat dengan Jungkook. Bahkan, tugasnya untuk mengobati luka Jungkook saja sudah dilakukan gadis itu lebih dulu.
Nayeon menyembunyikan tubuhnya dibalik gorden pemisah tempat tidur diUKS, ia mau pergi, tapi rasa penasaran nnya terlalu besar, tentang siapa gadis itu?
“Aigoo.. kenapa punggung oppa sampai luka begini? Siapa yang melakukannya”
“Aku bisa mengganti kain plester ini sendiri”
“Tidak, kau akan kesulitan mengoleskan obatnya. Kau kan tidak tahu mana yang merah dan lebam”
“Aku bisa menggunakan kaca”
“Itu tidak akan berguna”
“Aku tidak suka”
“Oppa, menurut saja”
“Baiklah terserah kau”’
“Baguslah, oppa mana bisa menolak keinginanku, iya kan?”
Prangggg
Piring besi berisi obat-obatan terjatuh dilantai, membuat Jungkook juga gadis yang bersamanya itu menoleh kaget.
Nayeon sudah sampai pada batas pertahanannya, ia menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara dan segera pergi berlari keluar UKS.
“Nayeon?”
Menyadari, Nayeon yang pergi. Jungkook segera mungkin mengejar Nayeon. Tak peduli punggungnya yang masih belum selesai diobati.
“Oppa”
Tak mempedulikan seruan gadis itu. Jungkook berlari mencari Nayeon. Tapi, ia kehilangan jejak Nayeon. Akhirnya, Jungkook memutuskan kedalam kelas, tapi Nayeon juga tidak ada disana.
“Kemana dia?” Pikir Jungkook terus berusaha mencari kesana kemari, dan bertanya kebeberapa siswa yang berada dilorong sekolah.
Jungkook tak menyerah begitu saja karena tidak menemukan Nayeon. Ia masih terus berkeliling sekolah mencari Nayeon. Ia yakin, Nayeon tidak mungkin keluar sekolah karena sudah pasti gerbang ditutup dan dijaga security.
Hingga sampai ia berbelok kebagian belakang sekolah, netranya menangkap sosok Nayeon yang duduk dibawah pohon rindang sembari menekuk kaki dan memeluk kakinya sendiri.
Jungkook bernapas lega, akhirnya ia menemukan Nayeon. Pemuda itu melangkah mendekati Nayeon.
“Nayeon-ah”
Suara Jungkook mengalun lembut bersamaan angin yang juga menerpa dengan lembut.
Nayeon tak menjawab, gadis itu justru bergerak memunggungi Jungkook. Tak mau memandang pemuda bermarga Jeon lagi.
“Kau marah?” Jungkook mendudukkan diri disebelah Nayeon. Memperhatikan wajah Nayeon yang sembab karena menangis membuat dadanya sesak.
Tangan Jungkook terulur, meraih wajah Nayeon, menangkup kedua pipi tembam gadisnya itu, serta ibu jarinya bergerak menghapus jejak air mata yang tersisa.
“Benar kata Jaebum hyung, aku bodoh karena selalu membuatmu menangis”
“Siapa juga yang menangisimu?”
Jungkook mengerutkan dahinya, “lalu?”
“Aku menangisi…. ehmm”
“Ehmmmm” Jungkook mengikuti gumaman Nayeon memaksa Nayeon cepat menyelesaikan ucapannya.
“Aku menangisi semut, ia semut. Kasian mereka harus banyak kehilangan saudara mereka karena penyemprotan”
Jungkook tertawa mendengar alasan konyol Nayeon, merasa gemas. Pemuda itu mencubit pipi Nayeon. Lalu mendekatkan diri dan mencium pipi Nayeon kilat.
“Kau lucu”
Nayeon kembali membendung liquid bening dalam kelopak matanya. Ia kembali berpikir, jika ia sedang dipermainkan. Jungkook hanya bersikap manis ketika mereka berdua saja, tapi jika ada orang lain, Jungkook akan bersikap dingin.
Menyadari kebisuan Nayeon. Jungkook menatap Nayeon, ia bisa melihat jelas Nayeon yang tengah menahan air mata.
“Kenapa?” Jungkook khawatir
“Apa Kau menyukaiku Jungkook?”
“Pertanyaan apa itu? Kau sudah tahu jawabannya kan?”
“Tidak, aku tidak tahu. Dan aku tidak mengerti, aku paham jika aku yang mennyukaimu lebih dari apapun, tapi aku tidak yakin jika kau juga begitu. Aku merasa menjadi seperti mainanmu, kau bersikap manis saat berdua denganku, dan kau akan kembali acuh juga dingin saat kita ada didepan orang. Bahkan. Kau tidak membelaku saat aku dibully oleh fansmu, meski aku tahu itu salahku. Tapi sebagai seorang kekasih, seharusnya kau menunjukkan sikapmu kepada mereka yang menghinaku. Tapi kau cuma diam? Apa sebegitu memalukannya kah aku untuk kau akui didepan umum?”
Jungkook diam, menelaah kata demi kata yang diucap Nayeon.
Satu tetes air mata lolos dari kelopak mata Nayeon. Membuat Jungkook paham, bagaimana perasaan Nayeon sekarang.
“Aku kecewa padamu Jungkook”
Nayeon berdiri, memandang sebentar Jungkook yang masih menutup mulut rapat-rapat, lalu mendesah dan melangkah pergi. Percuma, Jungkook tidak akan pernah mengerti perasaannya.
“Maaf”
Langkah Nayeon terhenti, suara Jungkook menyeruak masuk kedalam indera pendengaran gadis itu. Baru saja Nayeon hendak memutar tubuh kembali menghadap Jungkook. Pemuda itu telah berjalan mendahuluinya.
Nayeon tak percaya. Hanya itu respon Jungkook? Dan kini justru ia ditinggal dengan acuh.
Miris, Nayeon memandangi punggung Jungkook yang berjalan menjauh dan menghilang dipersimpangan lorong.
“Jadi, aku benar-benar dipermainkan?” Lirih Nayeon.
***
“Nayeon-ah..”
“Hmmm”
“Kau yakin bisa pulang sendiri?”
“Iya”
“Aku tidak enak, tapi benarkan kau bisa sendiri?”
“Iya Momo”
Im Nayeon memamerkan rentetan senyum terpaksanya pada Momo. Agar sahabatnya itu tidak perlu memikirkannya.
“Lagi pula kemana sih si Jungkook itu? Kenapa dia tega sekali padamu” ,
“Sudahlah, biarkan saja dia, aku tidak mau berharap lagi. Karena kebenarannya adalah dia tidak serius padaku”
Momo memandang Nayeon turut sedih, ia juga menyesal karena tidak bisa menemani Nayeon disaat keadaan Nayeon yang membutuhkan teman. Tapi, mau bagaimana lagi. Ibunya sudag membawelinya untuk cepat pulang.
“Kau jangan melakukan hal aneh ya. Jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku” Momo berpesan pada Nayeon.
“Iya, terimakasih. Sudah pulang sana, ibu mu marah nanti”
“Ahh iyaa kau benar. Aku pulang yaa.. sampai jumpa Nayeonnn”
“Neeee”
Nayeon mengulas senyum sepanjang Momo pergi, dan setelah Momo benar-benar sudah tidak terlihat dipandangan. Kembali Nayeon menarik senyum itu, menyimpan untuk dirinya suatu saat nanti.
Karena sekarang, hatinya menolak untuk tersenyum.
“Kau yang bernama Im Nayeon?”
Sebuah suara membuat Nayeon menoleh, ia memicing melihat gadis yang ternyata adalah juniornya. Junior yang tidak sopan, Nayeon tidak suka dengan gadis itu, apalagi dia adalah gadis yang bersama dengan Jungkook di UKS.
“Kurasa, kau harus memanggilku sunbae” balas Nayeon.
“Wahh.. daebak. Benarkah ? Ohh baiklah, Nayeon sunbae? Begitu?”
“Cih membuang waktu”
Nayeon memutar badannya dan berjalan memilih acuh pada gadis juniornya itu. Tapi belum sempat ia berjalan jauh. Nayeon sudah ditarik oleh segerombol siswi lain. Nayeon tidak bisa memberontak, ia kalah jumlah.
Nayeon terus berpikir, ada apa ini? Apa bullyng lagi? Ohh please.. ia sudah lelah..
“Ada apa ini ? Lepaskan aku…”
***
Gelap, Nayeon sedari tadi tidak bisa tenang. Ia merasa kalau ia dibawa oleh sebuah mobil. Matanya ditutup, dan ia tidak bisa bergerak.
“Sialan.. heii bocah, kalian mau membawaku kemana hah?”
“Nikmati saja sunbae”
Nayeon kesal, ia sudah tidak tahan. Tapi kekuatan yang menahannya jauh lebih besar. Ia pun pasrah. Memberontak hanya akan membuatnya kehabisan tenaga.
Akhirnya, Nayeon memilih diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tiba-tiba Nayeon merasa mobil itu berhenti, gadis itu terus menggigiti bibir bawahnya menahan panik. Seseorang menariknya dan membantunya keluar dari mobil.
“Selamat tinggal sunbae?”
“Mwooo?”
Nayeon kelabakan, ia segera dengan susah payah membuka penutup matanya, meski sulit, tapi akhirnya ia bisa.
Dan saat matanya terbuka. Samar-samar ia melihat keadaan, sepi. Tapi ada satu orang diujung sana. Dibawah pohon, dengan gitarnya. Orang yang sangat Nayeon hapal siapa itu.
Dasar Nayeon bodoh. Kenapa kau masih menghayal tentang Jungkook? Nayeon menggelengkan kepala menyadarkan diri.
Dan
DUARRRR
sebuah benda seperti balon meledak membuat Nayeon kaget. Setelah itu, sebuah instrumen gitar terdengar.
Listen babe,
I’ll dedicate this song for you.
A really happy you, who is next to me
I waited for today, your birthday
Your smile that looks at me oh
It’s really, really bright
I want to pick those stars for you
Happy birthday to you
My beautiful love
Baby, only for you
Because you’re here, I’m happy
Happy birthday to you
Just like today, forever
Baby, only for you
We’re going to be together
I thank God for bringing the beautiful you down here
Please stay like this forever, inside me
I will kiss you baby
Happy birthday
Lantunan lagu favorit Nayeon BAP – Happy Birthday begitu indah terdengar kala seseorang disana yang menyanyikan.
Jungkook?
Bola mata Nayeon bergetar, membendung tangis harunya. Terlebih, ketika selesai Jungkook membawakan lagu untuknya. Pemuda yang pandai membolak balik hati Nayeon itu mengucap beberapa kata yang membuatnya tahu akan kebenaran perasaan Jungkook yang memang seharusnya tidak ia ragukan.
“Sebenarnya, aku tidak tahu harus bicara apa. Tapi aku tidak mau dipukuli lagi oleh kakakmu, ohh bukan karena itu, aku hanya ingin kau tahu satu hal Nayeon. Aku memilihmu, bukan sebuah permainan. Hidup itu bukan permainan, hidup itu pilihan, jadi aku memilihmu karena kau adalah pilihanku, dibalik segala sikapku yang dingin atau tidak pandai berkata-kata, aku meminta maaf padamu. Tolong terima aku Nayeon, terima aku disisimu, dan kau tidak perlu meragukan bagaimana perasaanku, karena aku cinta kamu, itu sudah jelas”
Nayeon diam membeku, ia bingung harus bicara apa untuk menjawab segala penuturan Jungkook padanya.
“Jadi kau tidak perlu meragukannya lagi, karena kebenarannya adalah. Dia juga menyukaimu adik kecilku”
Suara Jaebum kakak Jungkook tiba-tiba muncul,, serta beberapa orang termasuk Momo, Jinyoung dan juga gadis yang bersama Jungkook di UKS.
“Eyy kau jangan melihatku begitu sunbae, aku ini adiknya teman Jungkook oppa. Kami sudah dekat sejak kecil, jadi jangan cemburu ne?”
Nayeon menautkan alisnya heran.
Air matanya sudah kembali meluncur penuh haru, Jungkook pun melangkah mendekat kearah Nayeon.
“Maafkan aku ya?” Ucap Jungkook lagi.
Nayeon langsung saja memeluk Jungkook.
“Kau selalu bisa membuat aku bingung Jungkook”
Jungkook mengeratkan pelukannya pada Nayeon, membuat semua orang bersorak melihatnya.
Dengan begini, Nayeon tahu jika Jungkook memang menyukainya dan tidak berniat mempermainkannya.
Nayeon merenggangkan pelukannya.
“Jadi semua ini hanya settingan? Bullying itu? Dan sikapmu?”
“Awalnya tidak, tapi setelah kemarin aku ditegur dan dipukuli kakakmu, aku memutar otak untuk meminta maaf, namun aku ingat kau ulang tahun hari ini. Jadi sekalian saja aku mengerjaimu, dan ternyata menyenangkan”
“Mwoo?”
“Yaa, semua yang kau alami dari tadi pagi aku menjemputmu sampai tadi siang kau marah besar padaku, itu semua sudah kuatur”
“Kau jahat”
“Tapi kau menyukaiku kan?”
Pipi Nayeon bersemu malu,
“Selamat ulang tahun Nayeon, kau adalah pemberian terindah yang dipertemukan untukku, terimakasih karena sudah menyukai pria sepertiku”
Fin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar